Ada hal yang kuingat sewaktu kecil, tepatnya saat usia lima tahun. Aku sangat sayang kepada Ibu. Ketika Ibu berada di dekatku, setiap menit, setiap detik, aku selalu menciumi kedua pipi Ibu. Di mana pun itu.
Selalu. saat tidur, saat makan, saat duduk bersama. Di saat aku bersama Ibu di saat itu juga aku selalu menciuminya. Mungkin karena aku anak yang paling kecil.
Dulu waktu kami nonton bersama-sama. Seperti biasa aku yang berada di pangkuan Ibu selalu menciumi kedua pipinya.
Saat itu ada teman Ayah yang juga ikut nonton bersama kami, dia memperhatikan tingkah lakuku yang setiap ada iklan atau jeda film selalu mencium Ibu.
Kemudian dia bertanya,"Kok selalu Ibunya yang dicium, kenapa Ayahnya gak dicium juga?" Mendengar perkataan Pak Wir, Ayah menoleh kepadaku, dia menatapku. Aku tidak begitu mengerti maksud tatapan Ayah.
Aku hanya bisa menjawab, "Gak ah, Pak! Malu dong kan udah gede."
"Hahaha" dia pun tertawa. Lantas aku pun memandangi Ayah, sambil berbisik di dalam hati 'Aku kan udah gede masa iya cium laki-laki. Walaupun itu Ayahku aku tidak mau, aku kan malu.'
Masih dalam keadaan nonton bersama aku tertidur di pangkuan ibu.
Jujur saja, sampai sekarang aku masih ingat tatapan itu, tatapan yang tak akan pernah kulupakan. Seperti tatapan penuh harap ingin dicium juga. Itulah tatapan Ayahku.
Setelah beberapa saat lamanya akupun terbangun, kutatap sekeliling ternyata masih berada di pangkuan Ibu. Seperti biasa, aku menciumi Ibu lagi. 'Tapi... hey! Dimana ayahku?' Aku celingak-celinguk, menggelengkan kepala ke kanan, ke kiri, dan selanjutnya mengangkat bahu. 'Hmm ... mungkin ayah keluar bersama temannya.' Pikirku.
Seiring berjalannya waktu, aku sudah remaja tepatnya kelas tiga SMP. Kebiasaan menciumi Ibu sudah mulai hilang. Tapi untuk Ayah, tetap. Sekalipun aku tidak pernah mencium Ayah, tidak pernah sama sekali.
Sampai suatu ketika Ayah jatuh sakit, aku merawat Ayah, saat menyuapi makannya dan lagi-lagi Ayah menatapku. Tatapan itu yang aku ingat saat usia lima tahun. Tatapan yang penuh harap. Tapi tetap saja, aku masih tidak mau mencium Ayah. Sebenarnya bukan tidak mau tapi aku malu. Apalagi aku sudah remaja, aku tidak terbiasa.
Tahu kah kalian? untuk pertama kalinya aku mengalah, dan untuk pertama kali, akhirnya aku tidak malu mencium Ayah. Aku menciumi dahi dan kedua pipi Ayah. Yang pada saat itu Ayahku, sudah tertidur dengan pulasnya. Itulah ciuman pertama yang aku ingat dan terakhir untuk Ayah. Oh Ayah, I really-really miss U :'(
Saya juga malu kan sudah gede. Tapi saya nggak mau mencium ayah hanya saat terakhir nanti saja T.T
BalasHapusIya, jangan smpe menyesal deh ðŸ˜ðŸ˜
Hapus